Dunia Akui RI Layak Investasi
INDONESIA menempati posisi kedua sebagai negara layak investasi 2018 menurut survei majalah mingguan Amerika Serikat US News.
Dalam sebuah daftar bertajuk 2018 Best Countries, majalah itu menghimpun data Bank Dunia.
Posisi tersebut menjadi bukti pengakuan bahwa dunia menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi terbaik kedua di dunia
Dengan populasi 261 juta jiwa, total produk domestik bruto (PDB) sebesar US$932,3 miliar dan pertumbuhan ekonomi 5% Indonesia hanya berada di bawah Filipina yang bercokol di urutan pertama.
Namun, Indonesia lebih baik daripada Polandia, Malaysia, Singapura, Australia, Spanyol, Thailand, India, Oman, hingga urutan ke-20 yang ditempati Chile.
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Tamba Hutapea, mengatakan hasil survei tersebut menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk menarik investor, khususnya yang berasal dari AS. Dengan demikian, ia meyakini target realisasi investasi 2018 sebesar Rp765 triliun akan mampu diraih Indonesia.
"Yang jelas dari sisi kacamata investasi peringkat kedua layak investasi tersebut menjadi momentum yang baik untuk mendorong percepatan realisasi investasi di Indonesia," ujar Tamba saat dihubungi, kemarin.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pengumuman itu ialah satu hal yang baik dan harus dipertahankan.
Jangan sampai kepercayaan investor tergerus karena pemerintah berlaku ceroboh dengan menerapkan kebijakan yang selalu berubah-ubah.
"Itu permasalahan kita. Inkonsistensi kebijakan menjadi salah satu hal yang dikeluhkan investor, membuat iklim investasi menjadi sulit," ujar Rosan di kantornya, Jakarta, kemarin.
Ia menyebutkan salah satu kebijakan yang berubah dan tidak mendukung iklim investasi ialah keputusan untuk menggunakan 40% tenaga kerja di suatu daerah yang menjadi lokasi tujuan investasi.
Lebih tinggi
Posisi kedua sebagai negara layak investasi tahun ini merupakan peningkatan yang signifikan. Tahun lalu, dalam daftar yang sama Indonesia menduduki posisi ke-10 dan berada di bawah Malaysia (1), Singapura (2) India (6), dan Thailand (7).
Akan tetapi, menurut ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, seharusnya Indonesia berada di peringkat pertama menggeser Filipina. "Sebenarnya posisi Indonesia harusnya bisa lebih tinggi daripada Filipina yang menempati posisi nomor satu. Masak kalah sama Filipina?" ungkap Bhima saat dihubungi, kemarin.
Dalam kacamata Bhima Yudhistira, Indonesia jelas lebih baik daripada Filipina dalam bidang potensi sumber daya alam, potensi pasar 260 juta penduduk, dan perkembangan ekonomi digital yang begitu pesat yang tidak dimiliki Filipina.
Begitu pula dalam laporan Global Competitiveness Index yang menyebutkan kekuatan ekonomi Indonesia terletak pada skala makroekonomi yang besar dan usia produktif tertinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain.
"Dalam hal kemudahan berbisnis pun peringkat Indonesia naik dari 91 ke 72, sedangkan Filipina justru turun dari 99 ke 113. Kemungkinan besar indikator yang dipakai US News terlalu sempit. Harus dibandingkan dengan peringkat lainnya," cetusnya.
Meski demikian, Bhima menilai hasil survei itu bisa menjadi modal berharga Indonesia dalam menggaet investor, ditambah predikat layak investasi dari berbagai instansi. Namun, perlu hal ekstra untuk menarik investor di masa saat ini sebab rupiah masih mengalami pelemahan terhadap dolar AS karena faktor eksternal.
An monitor, kamu dihubungi kok sulit ya?? Kalau baca komen ini segera hubungi ane cak, Nur Kholis.. Urgent
BalasHapus